Sebuah pelajaran yang sangat berharga bahkan bisa kita dapatkan dari seonggok tahi ayam. Jika bisa kita sikapi dan maknai dengan benar.
sekian tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SMP, dimana saya tinggal bersama orang tua asuh saya.Saya memiliki sebuah tempat meja belajar yang diletakkan di pinggir kebun rumah. di sana saya biasanya mengerjakan PR saya, membaca buku, bahkan meja itu bisa saya gunakan untuk menyetrika.
Suatu hari selepas hari libur, tempat itu demikian kotornya, dengan debu dan tahi ayam dimana-mana. Tentu saya merasa sangat terganggu dengan hal itu, rencana saya mengerjakan PR disana terpaksa harus berpindah ke ruang TV yang ada ditengah rumah.
Melihat saya belajar di ruang TV ibu asuh saya bertanya kenapa saya tidak mengerjakan di tempat biasanya. dengan ringan saya menjawab, "Ngga enak Bu, tempatnya kotor dan banyak tahi ayamnya". Sang Ibu kemudian mengajak saya melihat tempat belajar saya, membekali saya sapu lidi, dan ember air. Kemudian dia mulai menyiram-nyiram air ke kumpulan kotoran itu dan meminta saya menyapunya dengan sapu lidi. Tak lebih dari 15 menit kami mengerjakan itu semua dan tempat belajar saya, kembali nyaman seperti semula.
Sebelum beranjak dari tempat itu, beliau berkata kepada saya, "Hidup itu seperti keberadaan tahi ayam ini. Tahi ayam adalah masalah, yang harus dihadapi dan dituntaskan. bukan di tinggal pergi dan berpindah ke tempat lain. Kalau dengan masalah sekecil tahi ayam saya sudah kamu tinggal kabur, bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah-masalah hidup yang akan menerpa kamu nantinya, jadi jangan terbiasa untuk KABUR DARI MASALAH, SELESAIKAN MASALAH KAMU SAMPAI TUNTAS".
Dari situ saya menyebut philosophy penyelesaian masalah adalah philosophy tahi ayam, sehingga saya selalu bertekad untuk menghadapi masalah hidup yang terus menerpa.