Ketika Hidup Menjadi Sulit

Jangan lupa untuk bernafas, karena dengan bernafas kita dapat terus melanjutkan hidup. Secara harfiah orang yang lupa bernafas adalah orang mati. Dalam arti lain, ketika hidup semakin sulit, tetaplah lanjutkan hidup karena hidup tak akan selalu sulit, senantiasa yakinkan diri kita untuk terus bertahan hidup, karena hidup akan menemukan jalannya sendiri untuk mengatasi kesulitan. SEMOGA BERHASIL.

Jumat, 09 September 2011

Konspirasi Onde-Onde

Dari sebuah obrolan sederhana yang  mengalir pada acara buka bersama sebuah komunitas sahabat di bilangan Pondok Cabe, lahirlah sebuah filosofi yang menggugah hidup manusia dan sisi kemanusiaannya (lebay ah...).

Waktu percakapan itu terjadi pun, tidak ada niat untuk memformulasikan hasil percakapan yang menyerupai diskusi tadi menjadi sebuah filosofi hidup, tapi filosofi itu sendiri muncul setelah dibicarakan lagi dalam situs jejaring sosial facebook; beginilah runtutannya :

http://www.facebook.com/wiracd/posts/1991353506788?notif_t=feed_comment

Maka, demikianlah filosofi Konspirasi Onde-onde tercetuskan. Semoga dapat menjadi renungan dan bermanfaat buat kehidupan...


Selasa, 19 Juli 2011

JANGAN TERBURU-BURU MENGGUGAT ALLAH

Kawan, izinkan aku bercerita tentang temanku Hidayat.

Hidayat adalah pria rendah hati nan sholeh yang tinggal jauh di pinggiran kota Jakarta, tepatnya di Depok. Se-tahuku tak pernah ada orang yang tersakiti oleh Dayat (demikian kami memanggilnya), karena keluhuran akhlaknya, cukuplah aku menceritakan kepadamu mengenai kebaikan yang dimilikinya kawan. Singkat kata, ia adalah pemuda sholeh yang baik hati. 

Jauh sebelum aku mengenal Dayat di kampus, Dayat pernah bercerita bagaimana Allah memberikan perlindungan kepadanya. Pada tahun 2000 Dayat lulus dari sebuah SMA, atas saran gurunya Dayat mengajukan lamaran PMDK untuk mendaftar di STPDN (Kawan tentu masih ingat, bagaimana rekor STPDN mengisi berita di media elektronik dan media cetak Indonesia). 

Saat itu, STPDN masih menjadi kampus favorite masyarakat karena konditenya yang 'masih baik' sebagai pencetak abdi-abdi negara di lingkungan pemerintahan, maka seorang lulusan STPDN tak ubahnya sebagai Jemaah haji yang baru pulang ke tanah air. Singkat cerita, dokumen Dayat diterima dan dinyatakan lulus oleh panitia penerimaan praja STPDN, keluarga dan handai taulan Dayat demikian gembira menerima berita tersebut, maka dibuatlah acara semacam syukuran dalam rangka menyambut berita kelulusan dokumen Dayat. Namun kawan tentu tahu bahwa proses penerimaan praja tak semudah itu, Dayat harus menempuh seleksi kedua dengan menempuh ujian masuk di tingkat Kota. Beberapa minggu kemudian tibalah kabar mengenai hasil ujian masuk, lagi-lagi Dayat dinyatakan LULUS dan berhak mengikuti test lanjutan berupa wawancara. maka lagi-lagi pihak keluarga mengadakan acara yang sama untuk mensyukuri kelulusan Dayat. 

Perlu kukabarkan kepadamu kawan, orang tua Hidayat adalah seorang tokoh masyarakat yang disegani di kampungnya,, jadi ketika kuceritakan padamu mengenai acara tahlil syukuran, tamunya bukanlah orang-orang sekitar se-RT, atau se-RW, tapi hampir seluruh penduduk kampung di tingkat Kelurahan sampai Lurahnya sekalipun, turut hadir di acara tahlil syukuran tersebut. Saat acara dilaksanakan, seorang tokoh masyarakat bahkan berkata kepada khalayak tamu undangan, "sebentar lagi kita akan punya camat dari kampung kita sendiri".

Kawanku Dayat, tetaplah seorang manusia, saat itu Dayat menikmati kesuksesannya dengan senyum simpul yang ditahan-tahan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. 

Namun seperti pepatah bilang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sebulan sampai dua bulan setelah wawancara, Dayat tak pernah  mendengar kabar dari panitia penerimaan praja. Dayat menanyakan langsung ke kantor sekretariat panitia dan dijawab dengan halus sebaiknya anda mencoba lagi untuk test wawancara tahun depan.... 

Saat itu langit Depok runtuh, buminya bergetar menghancurkan hati Dayat beserta harapan-harapannya, harapan orang tuanya, harapan keluarganya, warga kampungnya, dan tokoh masyarakat yang berbicara di acara syukurannya. Dayat tak berani menampakkan wajahnya di luar rumah sampai berbulan lamanya, tak mau meneruskan kuliah kemanapun yang ditawarkan kepadanya, dan tak berani menjawab pertanyaan tetangga-tetangganya mengenai kapan keberangkatannya ke "kampus dambaan".

Setahun kemudian, ketika semangatnya mulai bangkit, hatinya mulai menguat, Dayat mendaftarkan diri di kampus yang mempertemukan kami UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dua tahun kemudian Allah SWT memberikan jawaban kepada Dayat, mengapa Allah tak mengizinkannya masuk ke "kampus dambaan" itu, satu demi satu kebobrokan STPDN ditelanjangi oleh media, sebanyak media menampilkan kebobrokan manajemen dan strategi pendidikan kampus sebanyak itu pula Dayat beristighfar kepada Allah atas kecerobohannya menghujat Tuhan, tanpa menyadari ada hikmah yang sangat dalam di balik kegagalannya memasuki kampus neraka. 

Jika hal itu bisa terjadi kepada Dayat, tragedi yang sama dengan kasus yang berbeda sebenarnya sering terjadi kepada kita, pertanyaannya adalah; apakah kita mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi kepada kita, apakah kita mengambil hikmah dari kegagalan-kegagalan yang kita dapatkan untuk kemudian mensyukurinya sebagai pengalaman hidup yang mendewasakan bahkan menyelamatkan kita dari kehancuran yang lebih besar lagi. 

Anda lebih bisa menjawabnya daripada saya, Dayat terima kasih atas pelajaran pengalaman yang sangat berharga yang telah kau berikan kepadaku. Kawan marilah kita berkaca dengan pengalaman kita dan mengkajinya lebih jauh, apakah kita bisa meraih keuntungan dan kesuksesan saat ini, jika kita tidak mengalami musibah dan kegagalan di masa lalu ???

Sabtu, 11 Juni 2011

Menghargai Persahabatan

Kawan, pernahkah terbersit dalam fikiran kalian bahwa persahabatan kita hari ini akan memberikan manfaat kepada kita jauh di masa yang akan datang sampai 10 - 20 tahun lagi ?

Aku ingin menceritakan kepadamu, tentang sahabatku MULYADI ...
Aku bertemu Mulyadi 22 tahun yang lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Sekolah SD banjir di bilangan Cipadu, SD Kereo V. Aku belajar di Kreo V sampai di kelas 4 saja, karena aku harus ikut orang tuaku pindah dari Cipadu. Tentang sekolahku yang lainnya baiklah akan kuceritakan lain waktu saja.

Mul, begitu aku memanggilnya adalah seorang bocah gendut yang manja, ketika aku masuk kelas pagi itu, aku melihat Mul sedang merajuk pada ibunya untuk menempati tempat duduk yang telah ditempati siswa lainnya, dia berkeras ingin duduk di tempat itu walaupun Ibunya  mengatakan dengan tegas bahwa kursi itu sudah ditempati. Aku datang dan mengambil tempat di belakang kursi yang digugatnya, Ibu Mul, yang mulai kehabisan kesabaran menegurku dan menanyakan maukah aku duduk bersama Mul di meja yang sama yang kebetulan masih kosong. Aku menyapa Mul dan turut membujuknya untuk duduk di sebelah kursiku, sedikit menimbang-nimbang akhirnya Mul menempati kursi di sampingku. Awal pertemuanku dengan bocah gendut manja kesayangan ibunya.

Sejak hari itu aku dan Mul seperti sendal jepit, kami selalu melakukan aktivitas bersama-sama pergi sekolah, pulang sekolah, istirahat, dan belajar bersama-sama. Aku adalah pria lemah yang tak bisa membela diriku sendiri, Mul tumbuh menjadi pria kuat yang melabrak siapa saja yang berurusan dengannya. Mul menjadi bocah yang disegani karena badan besarnya dan keberaniannya menghadapi siapa saja. Mul menjadi semacam bodyguard bagi aku dan teman-teman lain di kelasku. Tak ada yang berani berurusan dengan anak-anak di sekitar Mul, karena berurusan dengan teman Mul, berarti berurusan dengan Mul. 

Perlukah kusampaikan kepadamu kawan, Mul tumbuh menjadi bocah pemberang karena Mul tak pernah mengenal Ayahnya. Mul tak pernah mengenal sosok ayah dalam hidupnya, Mul dibesarkan dengan kelembutan seorang Ibu dan kasih sayang yang melimpah dari Kakek Neneknya. Ibu Mul adalah seorang Ibu rumah tangga yang penyabar, Kakeknya adalah juragan konveksi dan tokoh yang disegani di Kampung kami, maka Mul, menjadi bocah yang lembut dan penuh kasih sayang kepada teman-teman di sekelilingnya, over protektif sehingga cenderung memusuhi orang-orang lain di luar kehidupannya.

Kebersamaanku dengan Mul hanya berlangsung sampai kelas 4 SD, seperti yang kukatakan kepadamu kawan, ketika itu Ayahku membawa kami pindah ke lain kota Kecamatan, yang membuatku harus pindah dari SDN Kreo V. Aku tak pernah menyangka 20 tahun kemudian aku akan bertemu Mul dengan keadaan yang tidak jauh berbeda. 

Setahun belakangan aku kembali ke Cipadu, mengontrak sebuah rumah kecil sederhana dekat sekolah banjirku dulu SDN Kreo V. Satu persatu aku bertemu dengan teman-teman kecilku salah satunya David, yang tinggal tak jauh dari rumah kontrakanku. 
Seminggu yang lalu David mengetuk pintu rumahku, dia mengabarkan Mul ada dirumahnya ingin bertemu denganku. Mul seorang bocah gendut sahabatku, masih seperti dulu. Lembut, over protektif, dan lucu. Sekarang Mul adalah seorang pengusaha konveksi meneruskan usaha kakeknya, jiwa wirausahanya membuatnya malas melanjutkan sekolah STM-nya di daerah Blok M. Mul menjadi pria ulet yang memperjuangkan usaha peninggalan kakeknya. 

Karena itu kawan, hargailah persahabatanmu hari ini, peliharalah dengan baik, karena engkau tak pernah tahu kapan Allah akan mempertemukanmu kembali dengan sahabatmu dengan beberapa kejutan besar. BERSAHABATLAH SEBANYAK ENGKAU MAMPU, dan ingat sahabat adalah dia yang melindungimu bukan dia yang menjerumuskanmu.